Kamis, 29 Desember 2016

Uji Kesabaran Liverpool di Era Jurgen Klopp

Uji Kesabaran Liverpool di Era Jurgen Klopp

Gelontoran 4 gol ke gawang Stoke City dalam laga Premier League 2016/2017 pekan ke-18 menggenapkan 100 gol yang telah dilesakkan Liverpool di era Jurgen Klopp yang terlalu belum lama dimulai. Manajer asal Jerman itu pun berhasil menyamai rekor Kenny Dalglish, pelatih The Reds musim 2011/2012. 

Dalglish yang hanya 1,5 tahun menangani Liverpool adalah satu-satunya pelatih yang mampu membawa The Reds mencetak 100 gol di Premier League hanya dalam 48 laga sebelum disamai oleh Klopp usai laga kontra Stoke City di Anfield pada 28 Desember 2016 lalu.

Rekor Klopp dan Dalglish tersebut mengungguli capaian yang pernah dicatatkan oleh 4 mantan pelatih Liverpool lainnya, yakni Brendan Rogers (100 gol dalam 52 laga), Bill Shankly (56 laga), George Patterson (58 laga), dan Gerard Houllier (59 laga). 

Garang Tanpa Bomber Utama


Torehan 100 gol dalam 48 pertandingan menjadi bukti bahwa Liverpool sangat produktif dalam urusan mencetak gol. Bahkan, The Reds adalah tim tersubur hingga pekan ke-18 Premier League musim ini dengan membukukan 45 gol, masih unggul dari Chelsea selaku pemuncak klasemen yang baru mengoleksi 38 gol.

Uniknya, sebagian besar gol Liverpool di Premier League 2016/2017 sejauh ini lebih banyak lahir dari sayap atau lini tengah. Dari total 45 gol, Divock Origi yang diplot sebagai bomber utama baru mencetak 4 gol. Padahal, striker internasional Belgia itu tampil dalam 15 laga. Lebih apes lagi Daniel Sturridge dengan sebiji golnya.

Liverpool tampaknya mulai melepaskan ketergantungan terhadap sosok penyerang bertipe nomor 9 alias target man. Susahnya mendapatkan bomber haus gol membuat The Reds kini tidak lagi mengandalkan striker murni untuk membobol gawang lawan.

Dulu, Liverpool selalu punya bomber kelas wahid yang memang bertugas sebagai pencetak gol, dari John Toshack, Kevin Keegan, David Fairclough, David Johnson, Kenny Dalglish, Ian Rush, Robbie Fowler, Michael Owen, Fernando Torres, hingga Luis Suarez.

Setelah Suarez hengkang ke Barcelona, The Reds selalu gagal memperoleh pengganti yang sepadan. Fabio Borini, Mario Balotelli, Rickie Lambert, bahkan Christian Benteke terbukti tidak sanggup mengemban tugas sebagai juru gedor andalan pasukan Anfield.

Kini, Liverpool era Klopp tampaknya sudah menemukan cara untuk tetap produktif tanpa harus melulu mengandalkan bomber utama. Buktinya, lini sayap dan tengah menjadi penyumbang gol terbanyak The Reds di Premier League hingga jelang paruh musim ini. 

Sadio Mane yang ditebus dari Southampton dengan mahar 40,7 juta euro membuktikan diri bahwa ia memang pantas dihargai mahal. Bergerak dari sisi sayap kanan, lelaki Senegal ini sangat trengginas di depan gawang lawan. Mane untuk sementara menjadi top skor klub dengan torehan 8 gol.

Garang di kanan, Liverpool juga tak kalah tajam di sisi kiri yang ditempati oleh Roberto Firmino dengan 6 gol-nya. Klopp tampaknya tahu betul bagaimana cara memaksimalkan kemampuan orang Brasil itu lantaran pernah sama-sama berkiprah di Bundesliga.

Barisan gelandang The Reds pun punya naluri mencetak gol yang bagus. Nyaris setengah gol Liverpool musim ini dihasilkan dari lini tengah. Ada 22 gol yang tercipta dari sektor sentral berkat aksi Adam Lallana (7 gol), Philippe Coutinho (5 gol), James Milner (5 gol), Emre Can (3 gol), Georginio Wijnaldum (1 gol), dan Jordan Henderson (1 gol).

Fenomena suburnya lini kedua Liverpool ini cukup menarik yang kini tidak lagi diperkuat oleh gelandang predator macam Steven Gerrard. Pasalnya, hampir semua rival terberat The Reds mengandalkan bomber tulen, ada Diego Costa di Chelsea, Sergio Aguero di Manchester City, Zlatan Ibrahimovic di Manchester United, Olivier Giroud di Arsenal, juga Harry Kane di Tottenham Hotspur.
Uji Kesabaran Liverpool di Era Jurgen Klopp 

Kesabaran Demi Trofi Perdana

Liverpool memang masih menjadi klub kedua yang punya koleksi trofi juara Liga Utama Inggris terbanyak dengan 18 kali menjadi kampiun setelah Manchester United yang mengoleksi 20 trofi. Namun, selama era Premier League yang berlaku sejak musim 1992/1993, The Reds justru belum pernah merasakan jadi jawara.Paling banter, Liverpool hanya sanggup finish di urutan kedua, yakni musim 2001/2002 dan 2013/2014. 

Kehadiran Klopp memunculkan harapan baru untuk membawa trofi juara Premier League perdana ke Anfield. Hanya saja, Liverpudlian harus lebih bersabar menantikan saat itu tiba karena Klopp sekarang sedang membangun fondasi The Reds agar lebih siap lahir-batin untuk nantinya benar-benar bersaing menjadi yang terbaik di Inggris.

Klopp adalah pelatih jenius yang memiliki nyali tinggi untuk menggoyang dominasi. Itu telah dibuktikannya semasa 7 musim menukangi Borussia Dortmund di Jerman. Semua orang tahu, betapa beratnya merengkuh trofi juara Bundesliga selama Bayern Munchen masih digdaya. Tapi, Klopp mampu melakukannya, malah sampai 2 kali.

Dua musim pertama membesut Dortmund, Klopp hanya mampu mengantarkan timnya itu finish di posisi 6 dan 5. Namun setelah itu, pelatih kelahiran Stuttgart ini berhasil mempersembahkan gelar kampiun Bundesliga dalam dua musim beruntun, yakni 2010/2011 dan 2011/2012.

Sayangnya, setelah melewatkan dua musim berikutnya sebagai runner-up, skuad Klopp mulai melemah hingga akhirnya ia dipecat usai musim 2014/2015. Dortmund limbung karena kehilangan banyak pemain andalan, termasuk yang menyeberang ke Bayern Munchen.

Namun, melihat kinerja Klopp di Liverpool yang baru berjalan setahun lebih dalam dua musim yang berbeda, para petinggi The Reds hendaknya lebih bersabar. Dan itu ternyata telah dilakukan dengan diperpanjangnya kontrak Klopp hingga 2022 mendatang. 

Tak banyak pelatih yang mampu membawa Liverpool juara kompetisi kasta tertinggi Inggris sejak klub ini didirikan pada 1892. Dari 27 manajer yang pernah membesut The Reds, hanya 8 orang yang bisa merengkuh trofi juara liga utama, yakni Bob Paisley, Bill Shankly, Kenny Dalglish, Tom Watson, George Kay, Matt McQueen, David Ashworth, dan Joe Fagan, itu pun ketika Premier League belum lahir.

Klopp sebenarnya tidak perlu terburu-buru untuk mencatatkan diri sebagai pelatih Liverpool pertama yang mampu menjuarai Premier League. Durasi waktu untuknya masih terbentang jauh sampai beberapa warsa ke depan seperti yang tertuang dalam kontrak. 

Progress Klopp dalam 1,5 tahun terakhir pun sangat menjanjikan. Dengan skuad yang kalah gemerlap dibanding City, Chelsea, atau United saja, The Reds mampu bersaing ketat di papan atas, apalagi jika Jordan Henderson dan kawan-kawan kian klop berkat didikan Klopp nantinya. Apabila itu terjadi, gelar juara yang dirindukan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk direngkuh. 

Ketika Chelsea Menjadi Sangat Sulit Untuk Dihentikan

Ketika Chelsea Menjadi Sangat Sulit Untuk Dihentikan

Skor 3-0 atas Bournemouth di pekan 18 Premier League 2016/2017 mengguratkan rekor baru bagi Chelsea. Hasil mantap tersebut menjadi kemenangan beruntun terpanjang dalam sejarah klub penghuni Stamford Bridge itu, yakni selalu meraih poin sempurna dalam 12 pertandingan berturut-turut.

Rekor yang dipecahkan Eden Hazard dan kawan-kawan adalah 11 kemenangan tanpa putus yang pernah ditorehkan pada 2009. Bedanya, saat itu Chelsea melakukannya dalam dua musim: 5 kemenangan diraih di sisa paruh kedua musim 2008/2009, ditambah 6 kemenangan lainnya di awal musim 2009/2010. 

Nah, kali ini The Blues melewati 12 laga dengan perkasa hanya dalam setengah musim, dan itu belum berakhir. Chelsea sangat berpeluang untuk menyamai atau bahkan melampaui catatan Arsenal sebagai pemilik rekor kemenangan terpanjang di Premier League dengan mengoleksi 14 kali menang beruntun pada 2002 silam.

Mengamuk Usai Terpuruk

Musim ini seolah menjadi ajang pelampiasan Chelsea yang tampil buruk musim lalu. Setelah menjadi juara Premier League 2014/2015, The Blues justru terpuruk di musim berikutnya dengan menempati posisi 10 di klasemen akhir Premier League 2015/2016. Sang manajer Jose Mourinho pun dipecat di tengah jalan.

Kehadiran Antonio Conte usai menunaikan tugasnya bersama tim nasional Italia di Piala Eropa 2016 membawa optimisme tinggi bagi warga Stamford Bridge. Keyakinan itu ternyata terbukti, setidaknya hingga pekan ke-18, sang manajer anyar sukses membawa Chelsea terbang tinggi.

Mengawali musim baru sejak 15 Agustus 2016, ramuan mantan kapten Juventus itu langsung manjur. Debut Conte berlangsung manis berkat kemenangan 2-1 atas West Ham. Hasil positif juga diraih di dua laga berikutnya kala bertandang ke markas Watford (1-2) dan kemudian menjamu Burnley (3-0).

Setelah ditahan 2-2 oleh Swansea City di pekan ke-4, Chelsea sempat menelan dua kekalahan berantai, yakni ditekuk Liverpool dengan skor 1-2 di kandang sendiri dan digilas 3-0 oleh Arsenal di Emirates. Namun, selepas dua hasil negatif itu, laju The Blues berjalan sangat mulus.

Dari 1 Oktober hingga 26 Desember 2016 yang baru lalu, tidak ada satu pun lawan yang bisa mengimbangi, apalagi mengalahkan pasukan biru. Leicester City yang menjadi jawara musim lalu digasak 3-0, Manchester United yang kini dibesut sang mantan digebuk 4-0, Manchester City pun tak berdaya di Etihad setelah disikat 1-3.

Kans Chelsea untuk menjadi yang terbaik di Inggris musim ini pun terbilang sangat besar. Hingga pekan ke-18, pasukan London Biru cukup kokoh bertahta di puncak klasemen dengan 46 poin, berjarak 6 poin lebih banyak dari pesaing terdekatnya, The Citizen.

Tak hanya rekor kemenangan terpanjang klub saja yang diukir setelah laga kontra Bournemouth lalu. Dua punggawa The Blues, Eden Hazard dan Cesc Fabregas, juga turut mengguratkan rekor khusus.

Satu gol Hazard di pertandingan tersebut menjadikan gelandang Belgia ini sebagai pemain Chelsea keenam yang telah membukukan 50 gol di Premier League setelah Frank Lampard, Didier Drogba, Jimmy Floyd Hasselbaink, Gianfranco Zola, dan Eidur Gudjohnsen.

Catatan emas yang dituliskan Fabregas lain lagi. Usai menjamu Bournemouth, gelandang Spanyol ini telah mengoleksi 98 assist di Premier League dan hanya kalah dari Wayne Rooney (101), Frank Lampard (102), serta Ryan Giggs (162).

Memecahkan Rekor, Mengulang Juara?

25 April 2009, The Blues mengawali rentetan kemenangannya usai membekuk West Ham 0-1 di Upton Park. Kala itu, Chelsea sedang bersaing ketat dengan Liverpool dan Manchester United untuk memperebutkan gelar juara Premier League 2008/2009. Empat laga tersisa pun dituntaskan Michael Ballack dan kawan-kawan dengan sempurna.

Sayangnya, 5 kemenangan beruntun itu tak mampu membawa Chelsea menuntaskan klasemen akhir di posisi puncak. MU tampil sebagai jawara dan disusul The Reds di urutan kedua. Chelsea harus puas finish di tiga besar dan “hanya” merayakan keberhasilan Nicholas Anelka yang tampil sebagai top skor musim itu dengan lesakan 19 gol.

Musim baru 2009/2010, The Blues yang kali ini ditukangi Carlo Ancelotti langsung tancap gas. Enam pertandingan awal diselesaikan dengan sempurna, melanjutkan hasil serupa di 5 pertandingan pamungkas pada musim sebelumnya, dan rekor 11 kemenangan tanpa cela pun berhasil diamankan.
Ketika Chelsea Menjadi Sangat Sulit Untuk Dihentikan 
Bermaterikan sederet pesepakbola top kala itu macam Frank Lampard, Ashley Cole, Michael Essien, Ricardo Carvalho, Joe Cole, Didier Drogba, Michael Ballack, Florent Malouda, Paulo Ferreira, Deco, hingga Nicolas Anelka, Chelsea akhirnya sukses membayar hasrat yang sempat kandas dengan merengkuh trofi Premier League 2009/2010.

Modal awal Chelsea di musim 2016/2017 ini lebih menjanjikan, tidak lain tidak bukan ya rekor 12 kemenangan berturut-turut yang baru saja ditorehkan. Spirit untuk mengulang kesuksesan pun sebenarnya sudah ada pada sosok Branislav Ivanovic, Obi Mikel, dan tentunya sang kapten John Terry yang turut berperan di skuad juara 2009/2010 silam.

Satu lagi, yakni fakta dan faktor pelatih. Carlo Ancelotti yang membawa Chelsea menjadi kampiun saat itu adalah orang Italia, sebangsa dengan juru taktik The Blues saat ini, Antonio Conte. 

Chelsea memang sering berjodoh dengan Italiano. Selain Ancelotti dan terlepas dari kesialan Claudio Ranieri yang gagal mempersembahkan trofi saat menukangi Chelsea, jangan lupakan dua nama pria Italia lainnya, yakni Gianluca Vialli dan Roberto Di Matteo. 

Vialli mengantarkan Chelsea meraih 5 trofi selama kurun 1998-2000, sedangkan Di Matteo adalah satu-satunya pelatih yang sanggup membuat The Blues sebagai raja Eropa alias juara Liga Champions, setidaknya sampai saat ini.

Tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Conte untuk menjaga konsistensi skuad asuhannya yang sangat menawan hingga menjelang tutup tahun 2016 ini. Jika itu dapat dilakukan, peluang untuk mengulang kejayaan 2009/2010 sekaligus sebagai pelampiasan atas terpuruknya Chelsea musim lalu sangat mungkin bisa terwujud.